Jumat, 20 November 2015

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INTERNET

Pengaruh Teknologi Internet bagi Perkembangan Anak

Internet sebagai media informasi dan tekhnologi bermanfaat meningkatkan effisiensi dan efektifitas kerja, membantu seseorang mencari dan menyebar informasi , mempermudah belajar , dan menambah wawasan pengetahuan. Penggunaan internet yang semakin mudah , semakin murah membuat pengguna semakin banyak penggunanya. Di zaman sekarang ini ,masyarakat sudah mengenal internet dengan berbagai perangkatnya, praktis hanya menggunakan Tab atau HP.
Pemakaian internet sangat mudah, cepat, dan cenderung dapat dijangkau oleh 'semua umur'. Orang yang tidak punya media tersebut juga tidak jarang pergi ke rental/warnet. Karena dapat dijangkau oleh 'semua umur' tetapi internet mencakup global, jadi ada 'hal-hal' yang tidak pantas dilihat oleh anak di bawah umur, seperti pornografi, karena akan ada dampak psikologis pada anak yang dikhawatirkan anak akan matang sebelum waktunya. Oleh karena itu pemakaian internet pada anak di bawah umur harus dengan pengawasan. Bukan hanya untuk anak-anak, tetapi remaja pun harus terkontrol, karena remaja masih labil dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Dampak terhadap Perekembangan Fisik

Awal masa perkembangan anak-anak banyak ditekankan pada manipulasi fisik yang dikoordinasikan melalui observasi dan interaksi sosial mengenai dampak dari manipulasi (Pierce, 1994). “Mengambil” pengalaman adalah penting untuk konsep perkembangan seperti percakapan dan hubungan sebab-akibat.  Belum ada bukti bahwa manipulasi virtual akan menghasilkan keterampilan intelektual yang sama terhadap kepribadian sebagaimana yang datang dari hasil manipulasi fisik.
Internet memberikan akses yang cepat dan mudah ke sejumlah besar informasi, bahkan nyaris tak terbatas. Padahal, praktek semestinya dalam awal perkembangan anak adalah dengan membatasi anak-anak dalam mendapatkan informasi, yang dilakukan dengan cara menyederhanakan pesan dan susunan kontennya. Mengingat adanya laporan dampak negatif informasi yang berlebihan pada beberapa orang dewasa, seperti “sindrom kelebihan informasi,” maka volume informasi tersebut kemungkinan bisa membingungkan anak-anak yang masih memiliki struktur fisik dan kognitif yang belum memadai (Pierce, 1994).
Dampak perkembangan fisik terhadap anak yang dalam masa pertumbuhan pun juga bisa terhambat. Anak jadi mudah lelah karena terlalu lama duduk berjam-jam didepan komputer, atau anak juga memiliki gangguan mata, seperti minus dan sebagainya.

Dampak Negatif
1. Konten seronok atau porno, saat ini sangat mudah untuk mengakses apa saja diinternet, yang dikhawatirkan situs tersebut. Hal ini tidak pantas dilihat oleh anak kecil atau dibawah umur dan remaja yang masih labil.
2. Game online, game ini akan mempengaruhi otak mereka yang akhirnya mereka akan kecanduan dan terbelenggu dalam sebuah game.
3. Berita tentang anak gadis hilang karena media sosial Facebook. Yang merupakan situs pertemanan terbesar pertama di Indonesia. Efeknya ini bisa jadi penculikan yang jikamana mereka bertemu, pemerkosaan dll.
4. Penipuan via internet. Misalkan onlineshop. Kita tertarik untuk memesan barang. biaya ditransfer lalu barang tidak sampai-sampai yang akhirnya terjadi penipuan olshop.
5. Pencemaran nama baik. Seperti Ibu Prita yang menulis tentang pengalaman pahitnya berobat dirumah sakit, yang akhirnya dituduh itu tindakan pencemaran nama baik rumah sakit tersebut.
6. Bisa berbuat apa saja dengan canggihnya internet sekarang, seperti hack sosial media punya orang lain.

Dampak Positif
1. Anak yang kecanduan game online bisa menjadi kreatif. Anak tersebut bisa membuat kartun atau menjadi animator kartun dan bisa juga menjadi photograper yang handal.
2. Dunia facebook bisa digunakan sebagai ajang reuni atau berbagi informasi penting. Seperti perkumpulan kelas bisa bikin grup di facebook dan berbagi informasi tentang tugas atau informasi penting lainnya tentang perkuliahan.
3. Jejaring sosial juga bisa membantu ibu rumah tangga untuk mendapatkan penghasilan tambahan, Seperti Online Shop. Mereka bisa menjual berbagai barang-barang yang ia bisa kreasikan sendiri. atau menjual makanan yang unik dan berbeda.
4. internet juga bisa membatu pelajar atau mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Mencari informasi yang dibutuhkan menjadi lebih mudah.
5. bagi yang gemar menulis bisa juga inspirasi dan tulisannya dituangkan kedalam situs blog yang bisa menjadi informasi atau inspirasi untuk setiap pengguna internet.

Senin, 09 November 2015

SOFTSKILL



 Pengertian Penyesuaian Sosial Definisi dan Karakteristiknya

Tuning sosial atau penyesuaian sosial yang artinya mudah untuk membayangkan dan memahami . Ini adalah proses di mana orang-orang mengadopsi sikap orang lain dan mendapatkan bantuan dengan mengambil tindakan yang sama seperti orang lain . Sebagai contoh , fenomena kain dan aksesoris orang terkenal yang mengenakan bahwa terjual habis dalam waktu singkat dan banyak gadis mencoba untuk meniru dan membeli produk yang sama atau mirip dengan selebriti . Ini adalah salah satu tuning sosial , keyakinan bahwa " itu harus bagus karena ia / dia memakai . " Iklan sering mengambil keuntungan dari psikologi pemasaran ini .

Ada banyak bisnis dan pemasaran metode mengambil keuntungan dari psikologi manusia di sekitar kita . Salah satu wakil tuning sosial akan menjadi rekomendasi sosial yang menginformasikan pengunjung tentang preferensi teman-teman mereka ' atau sejarah pembelian . Kemungkinan bahwa orang yang melihat preferensi teman-teman mereka membeli apa yang mereka beli atau dianjurkan lebih tinggi dari non - rekomendasi .
Penyesuaian Sosial - Remaja sebagai makhluk sosial dituntut memiliki kemampuan penyesuaian sosial yang baik. Kegagalan remaja dalam menguasai  kemampuan sosial akan menyebabkan remaja sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 

Schneiders (1964: 460) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai ”the capacity to react efectively and wholesomely to social realities, situation, and relation”.
Penyesuaian sosial menandakan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu untuk bereaksi secara efektif dan wajar pada realitas sosial, situasi, dan relasi sosial.
Lebih jelasnya, Schneiders (1964: 454-455) menyatakan ”Social adjustment signifies the capacity to react efectively and wholesomely to social realities, situation, and relation so that the requirements for social living are fulfilled in acceptable and satisfactory manner”.

Penyesuaian sosial menandakan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu untuk bereaksi secara efektif dan wajar pada realitas sosial, situasi, dan relasi sosial dengan cara yang dapat diterima dan memuaskan sesuai ketentuan dalam kehidupan sosial.
Selain itu, penyesuaian didefinisikan juga sebagai proses yang mencakup respon mental dan perilaku di dalam mengatasi tuntutan sosial yang membebani dirinya dan dialami dalam relasinya dengan lingkungan sosial (Schneiders, 1964: 455).

Karakteristik Penyesuaian Sosial yang Sehat

Scheneiders (1964: 51) mengemukakan beberapa kriteria penyesuaian yang tergolong baik (good adjusment) ditandai dengan: 
  1. Pengetahuan terhadap diri sendiri dan orang lain,
  2. Obyektivitas dan penerimaan sosial, 
  3. Pengendalian diri dan perkembangan diri, 
  4. Tujuan dan arah yang jelas, 
  5. Perspektif, dan filsafat hidup memadai, 
  6. Rasa humor,
  7. Rasa tanggung jawab sosial, 
  8. Kecakapan bekerja sama dan menaruh minat kepada orang lain, 
  9. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain,
  10. Perkembangan kebiasaan yang baik, 
  11. Adaptabilitas, kepuasan dalam  bekerja dan bermain, 
  12. Orientasi yang menandai terhadap realitas sosial.

Sejalan dengan pendapat Syamsu Yusuf, Schneiders (1964: 51) mengemukakan ciri penyesuaian sosial yang baik sebagai berikut:
  1. Memiliki pengendalian diri yang tinggi dalam menghadapi situasi atau persoalan, dengan kata lain tidak menunjukan ketegangan emosi yang berlebihan.
  2. Tidak menunjukan mekanisme psikologis yang berlebihan, bertindak wajar dalam memberikan reaksi terhadap masalah dan konflik yang dihadapi. ampu mengolah pikiran dan perasaan dengan baik, sehingga menemukan cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya. 
  3. Memiliki pertimbangan rasional dan pengendalian diri, memiliki kemampuan dasar berfikir serta dapat memberikan pertimbangan terhadap tingkah laku yang diperbuat untuk mengatasi masalah yag dihadapinya. 
  4. Mampu belajar sehingga dapat mengembangkan kualitas dirinya terutama dalam bersedia belajar dari pengalaman dan memanfaatkan pengelaman tersebut dengan baik. 
  5. Mempunyai sikap realistik, objektif, dapat menilai  situasi, masalah dan kekurangan dirinya secara objektif.

Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial terlihat dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial serta memiliki sikap-sikap yang menolak realitas dan lingkungan sosial. Siswa  yang mengalami perasan ini merasa terasing dari lingkungannya, akibatnya ia tidak mengalami kebahagiaan dalam berinteraksi dengan teman-teman sebaya atau keluarganya.

Ketidakbahagiaan siswa kadang-kadang lebih karena masalah-masalah pribadi daripada masalah-masalah lingkungan, namun memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan sosialnya, dalam hal ini penyesuaian sosial. Jika siswa realistis tentang segala kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, dan merasa bahagia pada orang-orang yang menerima mereka serta mampu mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada orang-orang tersebut, kemungkinan untuk merasa bahagia akan meningkat. Artinya bahwa siswa memiliki  penyesuaian sosial yang sehat. 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri dan Sosial

Kemampuan penyesuaian diri dan sosial setiap individu berbeda-beda, adapun yang membedakan hal tersebut dapat dikarenakan faktor-faktor berikut ini (Schneiders, 1964: 122):

a.  Kondisi Fisik
b.  Perkembangan dan Kematangan
c.  Faktor Psikologis
d.  Kondisi Lingkungan
e.  Faktor Budaya

PSIKOLOGI SOSIAL : TUNING SOCIAL



Pengertian Penyesuaian Sosial Definisi dan Karakteristiknya

Definisi Penyesuaian Sosial - Remaja sebagai makhluk sosial dituntut memiliki kemampuan penyesuaian sosial yang baik. Kegagalan remaja dalam menguasai  kemampuan sosial akan menyebabkan remaja sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 

Schneiders (1964: 460) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai ”the capacity to react efectively and wholesomely to social realities, situation, and relation”.
Penyesuaian sosial menandakan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu untuk bereaksi secara efektif dan wajar pada realitas sosial, situasi, dan relasi sosial.
Lebih jelasnya, Schneiders (1964: 454-455) menyatakan ”Social adjustment signifies the capacity to react efectively and wholesomely to social realities, situation, and relation so that the requirements for social living are fulfilled in acceptable and satisfactory manner”.

Penyesuaian sosial menandakan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu untuk bereaksi secara efektif dan wajar pada realitas sosial, situasi, dan relasi sosial dengan cara yang dapat diterima dan memuaskan sesuai ketentuan dalam kehidupan sosial.
Selain itu, penyesuaian didefinisikan juga sebagai proses yang mencakup respon mental dan perilaku di dalam mengatasi tuntutan sosial yang membebani dirinya dan dialami dalam relasinya dengan lingkungan sosial (Schneiders, 1964: 455).

Selanjutnya, Callhoun dan Accocella (Fauziah: 2004: 30) mendefinisikan bahwa penyesuaian sosial sebagai interaksi yang kontinyu dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia atau lingkungan sekitar. Sedangkan  menurut Mu’tadin (2002: 3), penyesuaian sosial adalah kemampuan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan beberapa definisi penyesusian sosial di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud penyesuaian sosial adalah kemampuan individu dalam mereaksi tuntutan-tuntutan sosial secara tepat dan wajar.

Schneiders (1964: 451) membagi penyesuaian sosial menjadi tiga bentuk, diantaranya sebagai berikut:
  • Penyesuaian sosial di lingkungan rumah dan keluarga
  • Penyesuaian sosial di lingkungan sekolah 
  • Penyesuaian sosial di lingkungan masyarakat.
Karakteristik Penyesuaian Sosial yang Sehat

Scheneiders (1964: 51) mengemukakan beberapa kriteria penyesuaian yang tergolong baik (good adjusment) ditandai dengan: 
  1. Pengetahuan terhadap diri sendiri dan orang lain,
  2. Obyektivitas dan penerimaan sosial, 
  3. Pengendalian diri dan perkembangan diri, 
  4. Tujuan dan arah yang jelas, 
  5. Perspektif, skala nilai dan filsafat hidup memadai, 
  6. Rasa humor,
  7. Rasa tanggung jawab sosial, 
  8. Kecakapan bekerja sama dan menaruh minat kepada orang lain, 
  9. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain,
  10. Perkembangan kebiasaan yang baik, 
  11. Adaptabilitas, kepuasan dalam  bekerja dan bermain, 
  12. Orientasi yang menandai terhadap realitas sosial.
Syamsu Yusuf (2000: 130) menyatakan penyesuaian yang sehat sebagai berikut: 
  1. Mampu menilai diri secara realistik, yaitu mampu menilai diri sebgaimana adanya, baik kelebihan maupun kelemahan.
  2. Mampu menilai situasi secara realistik, yaitu mampu menghadapi situasi atau kondisi kehidupan secara realistik dan mampu menerimanya secara wajar. 
  3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik, yaitu beraksi secara rasional. 
  4. Menerima tanggung jawab, yaitu memiliki keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapi. 
  5. Kemandirian, yaitu memiliki sikap mandiri dalam cara berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma yang berlaku di lingkungannya. 
  6. Dapat mengontrol emosi, yaitu merasa aman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif. 
  7. Berorientasi tujuan, yaitu mampu merumuskan tujuan berdasarkan pertimbangan secara matang, tidak atas paksaan dari orang lain.   
  8. Berorientasi keluar, yaitu bersifat respek, empati terhadap orang lain, mempunyai kepedulian terhadap situasi, masalah-masalah lingkungan.
  9. Penerimaan sosial, dinilai positif oleh orang lain, berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sifat bersahabat. 

Sejalan dengan pendapat Syamsu Yusuf, Schneiders (1964: 51) mengemukakan ciri penyesuaian sosial yang baik sebagai berikut:
  1. Memiliki pengendalian diri yang tinggi dalam menghadapi situasi atau persoalan, dengan kata lain tidak menunjukan ketegangan emosi yang berlebihan.
  2. Tidak menunjukan mekanisme psikologis yang berlebihan, bertindak wajar dalam memberikan reaksi terhadap masalah dan konflik yang dihadapi. ampu mengolah pikiran dan perasaan dengan baik, sehingga menemukan cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya. 
  3. Memiliki pertimbangan rasional dan pengendalian diri, memiliki kemampuan dasar berfikir serta dapat memberikan pertimbangan terhadap tingkah laku yang diperbuat untuk mengatasi masalah yag dihadapinya. 
  4. Mampu belajar sehingga dapat mengembangkan kualitas dirinya terutama dalam bersedia belajar dari pengalaman dan memanfaatkan pengelaman tersebut dengan baik. 
  5. Mempunyai sikap realistik, objektif, dapat menilai  situasi, masalah dan kekurangan dirinya secara objektif.

Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial terlihat dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial serta memiliki sikap-sikap yang menolak realitas dan lingkungan sosial. Siswa  yang mengalami perasan ini merasa terasing dari lingkungannya, akibatnya ia tidak mengalami kebahagiaan dalam berinteraksi dengan teman-teman sebaya atau keluarganya.

Ketidakbahagiaan siswa kadang-kadang lebih karena masalah-masalah pribadi daripada masalah-masalah lingkungan, namun memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan sosialnya, dalam hal ini penyesuaian sosial. Memiliki perasaan rendah diri, tidak mau menerima kondisi fisik, tidak memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri, maka ini pun dapat mengakibatkan remaja menolak diri, sehingga proses interaksi sosialnya pun akan terhambat. Jika siswa realistis tentang segala kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, dan merasa bahagia pada orang-orang yang menerima mereka serta mampu mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada orang-orang tersebut, kemungkinan untuk merasa bahagia akan meningkat. Artinya bahwa siswa memiliki  penyesuaian sosial yang sehat. 

Siswa pada penelitian berada pada rentang usia 15-17 tahun, rentang usia tersebut termasuk pada masa remaja madya. Pada masa ini berkembang “social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain (Yusuf, 2007: 198). Siswa memahami orang lain di sekitarnya sebagai individu yang unik, baik yang menyangkut fisik, sifat-sifat pribadi, minat, nilai-nilai, maupun perasaannya. Pemahaman ini mendorong siswa untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan mereka (terutama teman sebaya), baik melalui jalinan persahabatan maupun percintaan (pacaran) (Yusuf, 2007: 198).
Aspek-Aspek Penyesuaian Sosial Siswa di Lingkungan Sekolah

Penyesuaian sosial siswa di sekolah diartikan sebagai kemampuan siswa mereaksi secara tepat realitas sosial, situasi, dan relasi sosial, sehingga mampu berinteraksi secara wajar dan sehat, serta dapat memberikan kepuasan bagi dirinya dan lingkungannya (Schneiders, 1964: 454).

Sekolah merupakan miniatur sosial bagi siswa, maka  sekolah memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk membentuk suatu  lingkungan sosial yang konstruktif dan kondusif bagi siswa, sehingga sekolah mampu mengantisipasi penyimpangan sosial-psikologis siswa. Di sekolah siswa tidak hanya mengalami perkembangan fisik dan intelektualnya saja, tetapi  juga membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk bersosialisasi agar mencapai kematangan sosial dalam mempersiapkan dirinya menjadi orang dewasa yang memiliki kemampuan penyesuaian sosial yang memadai.

Yusuf (2007: 95) mengungkapkan bahwa sekolah sebagai salah satu lingkungan sosial tempat individu berinteraksi, harus mampu menciptakan dan memberikan suasana psikologis yang dapat mencapai perkembangan sosial secara matang, dalam arti dia memiliki kemampuan penyesuaian sosial (social adjustment) yang tepat.

Tuntutan dan realitas kehidupan sosial di sekolah akan direaksi secara berbeda-beda oleh masing-masing siswa, tergantung kemampuan penyesuaian sosial yang dimilikinya. Schneiders (1964: 454) mengemukakan bahwa penyesuaian sosial yang dituntut dalam kehidupan sekolah, dengan tidak mempertimbangkan kebutuhan akademik, tidak jauh berbeda dengan penyesuaian sosial di lingkungan rumah dan keluarga, walaupun setiap individu akan bereaksi secara berbeda terhadap keduanya. Selain itu, Schneiders (1964: 454) telah menyusun tuntutan lingkungan atau perilaku yang diharapkan dan yang berkaitan dengan realitas, situasi, dan relasi sosial, serta dihadapi oleh siswa di lingkungan sekolah, yang meliputi aspek-aspek dan indikator-indikator berikut:

a.  Kemampuan siswa menjalin hubungan persahabatan dengan teman di sekolah.

Dalam aspek ini terdapat enam indikator, yaitu: 
  1. Siswa mampu menerima teman apa adanya
  2. Kemampuan siswa mengendalikan emosi. 
  3. Kemampuan siswa bertanya terlebih dahulu. 
  4. Kemampuan siswa bersikap realistis.
  5. Kemampuan siswa melakukan pertimbangan dalam mengambil keputusan. 
  6. Siswa mampu melakukan tindakan yang tepat sesuai norma. 
  7. Kemampuan siswa mempertahankan hubungan persahabatan.

b.  Kemampuan siswa bersikap hormat terhadap guru, kepala sekolah, dan staf sekolah lainnya. Dalam aspek ini terdapat empat indikator, yaitu: 
  1. Siswa berbicara dengan volume suara yang lebih rendah daripada guru, kepala sekolah, dan staf sekolah yang lain.
  2. Kemampuan siswa bertuturkata dengan sopan dan santun ketika berkomunikasi dengan guru, kepala sekolah, dan staf sekolah yang lain. 
  3. Kemampuan siswa dalam menjaga sikap ketika bertemu  dengan guru, kepala sekolah, dan staf sekolah yang lain.

c.  Partisipasi aktif siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah. Dalam aspek ini, terdapat dua indikator, yaitu: 
  1. Partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
  2. Partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

d.  Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah. Dalam aspek ini terdapat dua indikator, yaitu: 
  1. Memiliki kesadaran akan pentingnya peraturan di sekolah.
  2. Mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku di sekolah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri dan Sosial

Kemampuan penyesuaian diri dan sosial setiap individu berbeda-beda, adapun yang membedakan hal tersebut dapat dikarenakan faktor-faktor berikut ini (Schneiders, 1964: 122):

a.  Kondisi Fisik
Meliputi faktor keturunan (hereditas), kesehatan fisik, dan sistem fisiologis tubuh. Individu yang berada dalam kondisi yang baik akan lebih mudah melakukan penyesuaian dibandingkan dengan individu yang sedang sakit, mengalami atau memiliki cacat tubuh, kelemahan fisik, dan kekurangan-kekurangan lainnya. Individu yang memiliki kekurangan yang berkaitan dengan fisik dapat mengalami perasaan-perasaan yang tidak adekuat, tertutup (inferiority), atau justru perhatian yang berlebihan terhadap fisiknya. Hal-hal tersebut seringkali menjadi penghambat dalam melakukan penyesuaian diri maupun penyesuaian sosial.

b.  Perkembangan dan Kematangan
Meliputi faktor kematangan intelektual, sosial, moral, dan kematangan emosional. Individu yang lebih matang secara emosional akan lebih mudah melakukan penyesuaian dibandingkan dengan individu yang kurang matang, karena ia mampu mengendalikan diri dan bereaksi lebih tepat dan sesuai situasi yang dihadapi.

c.  Faktor Psikologis
Meliputi pengalaman, proses belajar, pengkondisian,  self-determination, frustasi, dan konflik. Selain itu, pengalaman pada individu yang menjadikan proses belajar dapat mempengaruhi penyesuaian individu tersebut. Individu menjadi tahu dan merasakan apa yang telah dialami dan dijadikan pembelajaran agar  dapat melakukan penyesuaian diri maupun sosial yang tepat.

d.  Kondisi Lingkungan
Meliputi kondisi rumah, keluarga, dan sekolah. Pengaruh lingkungan rumah dan keluarga sangat penting karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama dan utama untuk individu. Posisi dalam keluarga, jumlah anggota keluarga, peran dalam keluarga, dan relasi dengan anggota keluarga lain akan mempengaruhi kebiasaan, sikap, dan pola perilaku individu. Begitupun halnya dengan sekolah  yang juga memberikan pengaruh yang kuat pada kehidupan intelektual, sosial, dan moral individu.

e.  Faktor Budaya
Meliputi juga ada istiadat dan agama yang turut mempengaruhi penyesuaian diri dan sosial seseorang. Karakteristik budaya yang diturunkan kepada individu melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat turut mempengaruhi pola perilaku individu yang bersangkutan.


Masalah-Masalah Penyesuaian Sosial Siswa
Mappiare (1982: 92-93) mengemukakan hal-hal penting dalam perkembangan pribadi, sosial dan moral remaja yaitu sebagai berikut.

   
Pertama; masa remaja merupakan masa yang kritis bagi pembentukan kepribadiannya. Kritis, disebabkan karena sikap, kebiasaan dan pola perlakuan sedang dimapankan, dan ada atau tidak adanya kemapanan itu menjadi penentu apakah remaja yang bersangkutan dapat menjadi dewasa dalam artian memiliki keutuhan atau tidak.  
   Kedua; penerimaan dan penghargaan secara baik orang-orang sekitar terhadap diri remaja, mendasari adanya pribadi yang sehat, citra diri positif dan adanya rasa percaya diri remaja. Demikian pula, pribadi sehat, citra diri positif dan rasa percaya diri yang mantap bagi remaja menimbulkan pandangan (persepsi) positif terhadap masyarakatnya, sehingga remaja lebih berpartisipasi dalam kehidupan sosial. 
    Ketiga; kemampuan mengenal diri sendiri disertai dengan adanya usaha memperoleh citra diri yang stabil, mencegah timbulnya tingkah laku yang over kompensasi ataupun proyeksi, sekaligus dapat menanamkan moral positif dalam diri remaja.

Siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan segala kondisi dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya. Tetapi, tidak semua siswa selalu berhasil dalam proses penyesuaian sosial. Banyak masalah-masalah yang muncul dihadapi siswa seiring dengan proses perkembangannya yang berlangsung sepanjang hayat. 

Abin Syamsuddin (2000:137) mengemukakan mengenai masalah-masalah yang dihadapi remaja berkaitan dengan segala aspek perkembangannya yaitu sebagai berikut.
  • Munculnya kecanggungan-kecanggungan dalam pergaulan akibat adanya perbedaan dalam perkembangan fisik; munculnya sikap penolakan diri (self rejection) akibat  body imagenya tidak sesuai dengan gambaran diri yangsesungguhnya; timbulnya gejala-gejala emosional tertentu seperti perasaan malu karena adanya perubahan suara (laki-laki) dan peristiwa menstruasi (perempuan); munculnya prilaku-prilaku seksual yang menyimpang pada remaja yang tidak terbimbing oleh norma.
  • Munculnya sikap  negatif terhadap pelajaran dan guru bahasa asing tertentu pada remaja yang mengalami kesulitan dan kelemahan dalam mempelajari bahasa asing; timbulnya masalah underachiever (remaja yang memiliki prestasi di bawah kapasitasnya) atau  inferiority complex (rasa rendah diri) pada remaja yang tidak pernah tuntas. 
  • Timbulnya masalah  juvenile delinquency ketika keterikatan hidup dalam gang (peers group)  tidak terbimbing; tidak senang di rumah bahkan  minggat ketika terjadi konflik dengan orang tua.
  • Mudah sekali digerakkan untuk melakukan kegiatan destruktif yang spontan untuk melampiaskan ketegangan emosionalnya; ketidakmampuan menegakkan kata hatinya membawa akibat sukar menemukan identitas pribadinya.