SANDY GILANG
19514988
2PA12
KASUS DAN ANALISIS
Guru Depresi Aniaya Dua Siswa SD di Kediri
LENSAINDONESIA.COM:
Aksi kekerasan terhadap anak dibawah umur belakangan marak terjadi di
lingkungan sekolah. Di Kabupaten Kediri, dua siswa kelas 2 Sekolah Dasar Negeri
(SDN) Gedangsewu I, Kecamatan Pare, menjadi korban kekerasan seorang guru
bernama Sri Sugiarti.
Dua siswa berusaia 8 tahun
tersebut adalah Febry dan Fahmi.
Kasus penganiayaan yang
terjadi Rabu (30/05/2014) ini dilaporkan ke Polres Kediri oleh Slamet, orang
tua Febry, Sabtu (03/5/2014).
Kepada lensaindonesia.com, warga Desa
Gedangsewu itu mengatakan, ia beru mengetahui masalah ini ketika Febry mengaku
takut berangkat ke sekolah karena telah dimarahi gurunya.
Awalnya, Slamet tidak curiga
dengan apa yang terjadi pada anaknya. Ia hanya memaklumi dan menganggap wajar
seorang guru memarahi muridnya. Namun kecurigaan Slamet mulai muncul saat esok
harinya saat anaknya menolak berankat ke sekolah lagi.
“Saya baru curiga saat
besoknya lagi anak saya kembali minta diantar. Tidak seperti biasanya anaknya
minta diantar sekolah padahal jarak rumah dan sekolahan hanya beberapa meter
saja. Akhirnya saya pun menanyakan ke Febry dan ternyata ia sering dipukul
gurunya dengan penggaris kayu,” ungkap Slamet di Mapolres Kediri, Sabtu siang.
Slamet menambahkan, ternyata
penganiayaan tidak hanya dialami oleh anaknya saja. Namun seorang teman sekelas
Febry, yaitu Fahmi juga mengalami kekerasan serupa.
Sementara itu, Kasat Reskrim
Polres Kediri AKP Edi Herwiyanto membenarkan telah terjadi kasus penganiayaan
terhadap dua orang siswa SDN Gedangsewu I.
Ia menyampaikan, kasus
kekerasan terhadap siswa tersebut, sebenarnya sudah terjadi, pada Rabu lalu.
Sementara orang tua wali murid melaporkan kasus itu ke Polsek Pare Kota, pada
Jumat (02/5/2014) kemarin. Kemudian, mereka melaporkan kembali ke Unit
Pengaduan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kediri, pada hari ini.
“Semua pihak sudah kita
panggil, untuk kita mintai keterangan. Hari ini, kita memediasi mereka, karena
kedua belah pihak sepakat untuk berdamai,” ujarnya.
AKP Edi menyampaikan, kasus
penganiayaan ini terjadi saat korban bersama siswa lain bermain di dalam kelas.
Saat sedang bermain, keduanya berjalan diatas meja. Hal itu diketahui gurunya,
Sri Sugiarti. Guru tersebut kemudian memanggil kedua korban. Selanjutnya, guru
memukuli mereka menggunakan penggaris dari kayu, pada bagian punggungnya.
Sepulang dari sekolah, kedua
korban mengadu kepada orang tuanya. Merasa tidak terima, orang tua korban
kemudian mengajak anaknya melapor ke kantor polisi. Petugas selanjutnya
memintai keterangan kedua korban.
Sementara itu, sejumlah guru
SDN Gedangsewu 1 memilih menghindar ketika dimintai konfirmasi persoalan
kekerasan terhadap siswa di sekolah oleh oknum guru. Guru-guru hanya memberikan
informasi, jika dewan guru, bersama kepala sekolah tengah dimintai keterangan
di Mapolres Kediri.@andik kartika
Teori Kontrol Diri
Kontrol diri merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang terdapat di lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli berpendapat bahwa selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negatif dari stressor-stessor lingkungan, kontrol diri juga dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat pencegahan (Gustinawati, 1990).
Kontrol diri dapat mencakup semua bidang perilaku, yaitu perilaku politik, sosial, spritual, budaya dan perilaku kerja. Pengaruh kontrol diri terhadap timbulnya tingkah laku seseorang dapat dianggap cukup besar, karena tingkah laku overt merupakan hasil proses pengontrolan diri seseorang.
Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi
serta dorongan-dorongan dari dalam dirinya (Hurlock, 1990). Menurut konsep
ilmiah, pengendalian emosi berarti mengarahkan energi emosi ke saluran ekspresi
yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Memang konsep ilmiah
menitikberatkan pada pengendalian, tetapi tidak sama artinya dengan penekanan.
Mengontrol emosi berarti mendekati suatu situasi dengan menggunakan sikap yang
rasional untuk merespon situasi tersebut dan mencegah munculnya reaksi yang
berlebihan (Elfida, 1995). Ada dua kriteria yang menentukan apakah kontrol
emosi dapat diterima secara sosial atau tidak. Kontrol emosi dapat diterima
bila reaksi masyarakat terhadap pengendalian emosi adalah positif. Namun reaksi
positif saja tidaklah cukup. Karenanya perlu diperhatikan kriteria lain, yaitu
efek yang muncul setelah mengontrol emosi terhadap kondisi fisik dan psikis.
Kontrol emosi seharusnya tidak membahayakan fisik dan psikis individu. Artinya,
dengan mengontrol emosi kondisi fisik dan psikis individu harus membaik
(Hurlock, 1973).
Hurlock (1973) menyebutkan tiga kriteria emosi yang masak sebagai berikut :
Hurlock (1973) menyebutkan tiga kriteria emosi yang masak sebagai berikut :
a. Dapat melakukan kontrol diri
yang bisa diterima secara sosial.
b. Dapat memahami seberapa
banyak kontrol yang dibutuhkan untuk memuaskan
kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat.
kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat.
c. Dapat menilai situasi secara
kritis sebelum meresponnya dan memutuskan cara beraksi terhadap situasi
tersebut.
Dari uraian dan penjelasan di
atas, maka untuk mengukur kontrol diri digunakan aspek-aspek sebagai berikut :
1. Kemampuan mengontrol perilaku
2. Kemampuan mengontrol stimulus
3. Kemampuan mengantisipasi
suatu peristiwa atau kejadian
4. Kemampuan menafsirkan
peristiwa atau kejadian
5. Kemampuan mengambil keputusan
Psikoanalisis-Freud
Menurut
teroi Freud, manusia termotivasi oleh dorongan-dorongan utama yang belum atau
tidak mereka sadari. Kehidupan terbagi menjadi dua tingkat. Alam tidak sadar
dan alam sadar. Kemudian, alam tidak sadar kembali dibagi menjadi dua tingkat,
alam tidak sadar dan alam bawah sadar. Keberadaan lokasi dari ketiga tingkat
tersebut bersifat hipotesi dan tidak nyata ada di dalam tubuh. Sekalipun demikian,
ketika membahas alam tidak sadar, Freud melihatnya sebagai suatu alam tidak
sadar sekaligus proses yang terjadi tanpa disadari. Bagi Freud, manusia
termotivasi untuk mencari kesenangan serta menurunkan ketegangan dan kecemasan.
Motivasi ini diperoleh dari energi psikis dan fisik dari dorongan dasar yang
mereka miliki. (Jess Feist & Gregory J. Feist, 2013)
Analisis
Melihat
fakta-fakta di atas dapat dicermati bahwa peristiwa kekerasan yang dilakukan
oleh guru terhadap murid sering terjadi di jenjang pendidikan Sekolah Dasar
(SD). Hal ini disebabkan karena pada tingkat SD kinerja guru adalah yang
terberat bila dibandingkan dengan guru di tingkat pendidikan lain seperti SMP
dan SMA. Bila tugas guru SMP dan SMA hanya mengajar satu mata pelajaran saja
(karena tiap pelajaran ditangani oleh guru yang berbeda), maka tugas guru SD
adalah mengajar semua mata pelajaran. Selain itu bukan hanya tugas mengajar
saja yang dibebankan kepada guru SD, tugas mendidikpun menjadi tanggungjawab
guru SD untuk membentuk moral siswa-siswi.
Menonjolnya
aksi kekerasan guru terhadap murid pada jenjang pendidikan SD diperkuat oleh
data hasil survey yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
selama 2 tahun terakhir (2006-2007) yang menyebutkan bahwa peristiwa terbanyak
yang terjadi dalam kasus kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid ini
terjadi di jenjang pendidikan SD. Ditambah
lagi menurut catatan Depdiknas mengenai mutu guru-guru SD yang ada di tanah
air, hanya 38% yang memenuhi syarat layak mengajar (Kompas, 25 Januari
2001).
Sekecil
apapun kesalahan yang dilakukan guru, khususnya dalam pembelajaran akan
berdampak negative terhadap perkembangan peserta didik. Sebagai manusia biasa,
tentu saja guru tidak akan terlepas dari kesalahan baik dalam melaksanakan
tugas pokok mengajar. Fenomena kasus kekerasan yang dilakukan oleh guru
terhadap murid ini tentunya menimbulkan pertanyaan besar bagi masyarakat
mengenai apa yang melatarbelakangi hal tersebut?faktor-faktor apa yang
menyebabkan seorang guru yang seharusnya menjadi contoh murid-muridnya justru
melakukan tindakan amoral yaitu berupa kekerasan terhadap murid-muridnya? Hal
ini biasanya disebabkan oleh faktor-faktor berikut:
Adanya masalah psikologis yang
menyebabkan hambatan dalam mengelola emosi hingga guru ybs menjadi lebih
sensitif dan reaktif ; Kurangnya pengetahuan guru bahwa kekerasan itu tidak
efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku ; Adanya tekanan kerja
yang harus dicapai sehingga melampiaskan kepada peserta didik ; Pola
authoritarian masih digunakan dalam pola pengajaran ; Tidak bisa mengonrol
emosi diri. Tekanan ekonomi, pada gilirannya bisa menjelma menjadi bentuk
kepribadian yang tidak stabil, seperti berpikir pendek, emosional, mudah goyah,
ketika merealisasikan rencana-rencana yang sulit diwujudkan
Sumber :
http://www.lensaindonesia.com/2014/05/03/guru-depresi-aniaya-dua-siswa-sd-di-kediri.html